Liliana Natsir Nostalgia di Kota Kudus

Liliana Natsir memang mempunyai banyak kenangan manis dan pahit di kota Kudus, Jawa Tengah. Ini karena mantan pebulu tangkis Indonesia itu menjalani latihan keras pada proses karantina jelang laga-laga besar di kota Kretek tersebut.

PB Djarum memang berpusat di kota yang memiliki 9 kecamatan itu sehingga tak mengherankan bila Liliana Natsir atau akrab disapa Butet mengaku memiliki memori yang mengesankan di tempat ini.

Butet ikut lari marathon di Kudus

Pada salah satu sesi wawancara Butet mengatakan berada di kota tersebut untuk mempersiapkan sebuah event lari atau Kudus Relay Marathon 2019 yang akan digelar pada Minggu, 25/8/2019. Pada gelaran tersebut akan diadakan half marathon, relay marathon, 10k, 5k, serta kids fun run. Butet sendiri menyatakan akan mengikuti lari 5k.

Perempuan kelahiran Manado itu menambahkan bahwa sebelum dirinya menjadi juara Olimpiade trainingnya selama menjalani profesi sebagai atlet juga dilakukan di kota tersebut.


Beberapa raihan yang berhasil dicapai alumni PB Djarum ini adalah: juara pada laga perebutan Piala Uber di tahun 2004, 2008, dan 2010. Butet juga menyabet juara pada gelaran Piala Sudirman di tahun 2003 , 2005, 2007, 2009 dan 2011. Pada event Olimpiade Beijing 2008 dirinya bersama rekan seprofesi, Nova Widianto sukses meraih medali perak pada nomor ganda campuran.


Prestasi terbesarnya adalah bersama Tontowi Ahmad saat berhasil merebut medali emas Olimpiade Rio de Janeiro tahun 2016 pada nomor ganda campuran bersama Tontowi Ahmad.

Terkait ajang lari yang diikutinya tersebut, Butet mengaku kalau dirinya sebenarnya tidak menyukai olahraga lari. Namun dirinya yang selama menjalani training mendapat gemblengan fisik mengatakan kalau lari sejauh 5 km itu tak akan terlalu berat untuknya.

Lebih jauh Butet melanjutkan bahwa untuk dirinya dan teman-teman sesama atlet sebenarnya lari 5 km bukan masalah besar. Tapi dia juga mengaku bahwa masalahnya dirinya memang tidak hobby olahraga tersebut. Karena itu walaupun secara fisik seharusnya dia mampu, namun membayangkan jarak yang cukup jauh tersebut Butet juga sempat merasa tegang.

Ajang tersebut baginya juga masih coba-coba dan belum tahu apakah ke depannya dia berniat untuk menekuni olahraga lari secara serius. Kudus Relay Marathon memang tak hanya menyelenggarakan kompetisi pada nomor relay marathon tapi juga menyediakan peluang bagi peserta untuk berpartisipasi pada half marathon, yaitu 10K, 5K, serta kids fun run.

Salah satu hal yang membuat Liliana tak suka lari adalah harus masuk tepat pada waktunya dan kalau gagal harus diulang kembali. Itulah katanya yang membuatnya tegang. Mantan pasangan Tontowi Ahmad itu juga mengaku jika dirinya lebih memilih berlatih di lapangan daripada harus lari, walaupun di lapangan dirinya harus terus berdiri.

Butet pasca pensiun

Liliana Natsir memang telah pensiun dari olahraga bulutangkis yang membesarkan namanya, namun dirinya berhenti dengan berderet prestasi bergengsi. Pasca pensiun Butet rupanya tak dapat jauh-jauh dari dunia bulutangkis. Dirinya kini dipercaya sebagai bagian dari Tim Pencari Bakat.

Dirinya juga bertanggungjawab dalam mencari bibit-bibit unggul bulutangkis pada tiap atlet muda Indonesia pada Audisi Umum. Atlet yang sudah berkarier selama 24 tahun ini didapuk sebagai Technical Adviser PB Djarum.

Secara pribadi Butet mengatakan dia berharap generasi penerus pada atlet bulutangkis kelas dunia akan selalu ada di tanah air. Terkait tugasnya Butet akan selalu hadir pada event Audisi Umum Djarum Beasiswa di tiap kota.

Read More

Fajar/Rian Melaju ke Semifinal

Setelah Kevin dan Marcus angat koper, Indonesia berhasil melaju ke babak semifinal pada nomor ganda putra Fajar Alfian/Muhammad Rian Ardianto pada ajang Kejuaraan Dunia Bulu Tangkis BWF 2019. Setelah duet Mohammad Ahsan/Hendra Setiawan juga sukses meraih kemenangan pada perempat final Indonesia mendapatkan sebuah tempat lagi di babak final.

Fajar/Rian menampilkan performa apik

Kemenangan tersebut berhasil diraih setelah duet asal Korea Selatan, Choi Solgyu/Seo Seung Jae tak dapat menahan serangan-serangan Fajar/Rian. Duet ini sukses mengunci angka melalui dua permainan dengan skor 21-13, 21-17 dalam laga yang berlangsung di St. Jakobshalle Basel, Swiss, Jumat (23/8) sore.

Setelah langkah The Minions yang digadang-gadang sebagai pembawa harapan kemenangan justru berhenti pada babak 16 besar, Fajar/Rian kembali memberikan harapan kepada Indonesia.

Performa duet Fajar/Rian pada waktu itu dapat dibilang berada di puncak sehingga sukses memenangi duel yang berjalan sangat ketat. Sebelumnya, harapan besar bertumpu pada pundak Kevin/Marcus sebagai unggulah untuk bertahan hingga partai puncak setelah sukses di babak kedua.

Sayangnya pasangan Choi Solgyu/Seo Seung Jae mampu tampil apik membalas setiap tantangan Kevin/Marcus. Hasilnya adalah kemenangan bagi mereka pada permainan yang berjalan tiga gim dengan perolehan angka 21-16, 14-21, 21-23. The Minions pun harus kembali melupakan impian untuk mendapat gelar juara dunia.

Sementara pada pasangan Ahsan/Hendra berhasil menundukkan dengan raihan angka 21-17, 21-19, duet asal Taiwan, Liao Min Chun/Su Ching Heng. 

The Daddies: Target sudah tercapai

Duet ganda putra Mohammad Ahsan/Hendra Setiawan yang sudah menggondol gelar peringkat 2 dunia memuluskan jalan mereka untuk melaju ke babak 4 besar. Pada wawancara setelah pertandingan keduanya kompak mengatakan bahwa target yang ditetapkan sebenarnya sudah tercapai walaupun mereka menginginkan hasil yang lebih baik.

Penonton sempat dibuat tegang pada babak-babak awal dimana persaingan mengumpulkan nilai berjalan ketat. Duet tersebut menang pada gim pembuka dengan mengandalkan adu drive atau serangan-serangan pukulan yang tajam.

Gim kedua sempat berlangsung pola yang sama pada awal permainan. The Daddies pada waktu itu telah memimpin pada angka 18-13. Meski demikian duet asal Taiwan tak mau menyerah dan mampu melawan luar biasa sengit bahkan sanggup memperpendek jarak skor hingga 17-18 atau mencuri 4 poin dari Ahsan/Hendra. Namun keduanya sukses mengakhiri permainan dengan angka 21-19.

Sebelumnya duet ini juga sudah pernah meladeni permainan pasangan asal Taiwan ini sebanyak 3 kali. Kedua atlet ini dengan kompak berkonsentrasi di awal untuk menentukan pola permainan. Walaupun terdepan dalam skor, Ahsan sendiri mengaku sedikit tertekan oleh lawan yang mampu bermain lebih bebas.

Ketinggalan angka rupanya membuat Liao Min Chun/Su Ching Heng justru berlaga tanpa beban dan semakin percaya diri. Hal ini membuat Ahsan/Hendra agak terintimidasi, namun Ahsa mengaku bersyukur karena dapat kembali berkonsentrasi.

Keduanya saat ini tengah menunggu lawan berikutnya, yaitu bisa saja rekan senegara sendiri, pasangan Fajar/Rian, atau duet dari Korea Selatan Choi Solgyu/Seo Seung Jae dari Korea Selatan pada babak semifinal.

Saat ditanyakan pada sesi wawancara siapa lawan yang menurut mereka paling ringan, Hendra menjawab dirinya tak berpikir ada lawan yang menguntungkan mereka karena semuanya berat.

Salah satu poin yang membuat The Daddies layak meneruskan asa Indonesia pada gelaran ini setelah Kevin/Marcus tumbang secara mengejutkan adalah keduanya dinilai telah menetapkan momentum 2019 ini sebagai tahun kebangkitan. Duet Ahsan/Hendra di tahun ini telah menjuarai All England serta mampu tampil konsisten pada tiap gelaran laga yang diikuti.

Read More